Senin, 30 Januari 2012

MACAM-MACAM SHIGOT



1.      Shighot Fi’il madhi
Fi’il madhi ialah lafadz yang menunjukan makna hadast (pekerjaan, sifat atau warna) serta diiringi dengan zaman madli (masa lampau). Jadi kalimat ini diucapkan setelah selesainya melakukan suatu pekerjaan. Contohnya seperti lafadz كتب زيد (zaid sudah menulis) jadi pekerjaan menulis ini sudah dilakukan oleh zaid sebelum zaid mengkhabarkanya.
Didalam tashrif fi’il madhi didahulukan dari pada fi’il mudhore’ dikarenakan:
a.       Fi’il madhi itu mempunyai zaman yang sudah lampau atau zaman madhi sedangkang fi’il mudhore’ itu mengandung zaman hal atau zaman istiqbal ( zaman sekarang atau zaman yang akan dating)
b.      Secara harfiyah fi’il mudhore’ itu hurufnya lebih banyak dari pada fi’il madhi sehingga didahulukan fi’il mudhore’
2.      Shighot Fi’il mudhore’
Fi’il mudhore’ ialah  lafadz yang menunjukan makna hadast (pekerjaan, sifat atau warna) serta diiringi dengan zaman yang sedang dilakukan sekarang atau zaman yang akan dilakukan. Seperti lafadz :
يأكل زيد الان : zaid sedang makan
يرجع زيد غدا : zaid akan kembali besok
Kenapa fi’il mudhore’ itu Dinamakan  mudhore’? (yang artinya secara bahasa adalah serupa) karena fi’il mudhore’ itu sama dengan isim fa’il didalam segi mati dan hidupnya huruf. Seperti lafadz
Fi’il mudhore’ يَنْصُرُ sedang menolong
Isim fa’il          ناَصِرٌ orang yang menolong
v  Pengertian zaman hal dan zaman istiqbal
F  Zaman Hal
Yaitu waktu yang tersusun mulai dari akhirnya zaman madhi sampai awalnya zaman istiqbal, yang terletak diantara keduanya
F  Zaman istiqbal
Yaitu waktu yang wujudnya setelah waktu yang kamu lakukan tanpa mencakup akhirnya zaman madhi.
Jadi fi’il mudhore’ tanpa adanya suatu qorinah (sesuatu yang menguatkan) antara zaman hal atau istiqbal para ulama’ mempunyai 3 pendapat.
1.      Mengikuti Qoul Ashoh
Bisa mencakup atau diartikan zaman hal atau istiqbal contoh seperti ينصـر bisa diartikan sedang menolong (zaman hal) atau akan menolong (zaman istiqbal)
2.      Mengikuti sebagian ulama
Zamanya menunjukan zaman hal secara kenyataan dan menunjukan zaman istiqbal secara majaz
3.      Mengikuti sebagihan ulama yang lain
Zamanya menunjukan zaman istiqbal secara kenyataan dan menunjukan zaman hal secara majaz [2]

Dalam fi’il mudhore’ fa’ fi’ilnya disukun agar tidak berkumpul empat harokat secara berturut-turut.
3.      Isim masdhar
Isim mashdar ialah bentuk kalimat yang dapat menunjukkan makna hadats (pekerjaan, sifat atau warna) tidak disertai dengan salah satu zaman. Jadi perbedaan yang mendasari antara masdar dan fiil terdapat pada masa/zaman.
seperti lafadz ضرب  menolong
4.      Masdhar mim
Yaitu masdhar yang didahului dengan mim tambahan selainya wazan seperti lafadz مضرب
5.      Isim Fa’il
Yaitu lafadz yang menunujakan makna orang yang melakukan pekerjaan atau dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan istilah Subjek. Seperti lafadz ضارب orang yang memukul
Didalam tashrif isim fa’il didahulukan dari pada  isim maf’ul dikarenakan setiap fi’il (pekerjaan) pasti membutuhkan fa’il (pelaku) namun belum tentu membutuhkan maf’ul.
6.      Isim maf’ul
Yaitu lafadz yang menunjukan makna orang/perkara yang dikenai pekerjaan (objek) seperti lafadz مضروب orang yang dipukul
7.      Fi’il Amar
Yaitu lafadz yang menunjukan makna perintah
Seperti lafadz اضرب pukulah
8.      Fi’il Nahi
Yaitu lafadz yabg menunjukan makna larangan melakukan pekerjaan.
Seperti lafadz لا تضرب jangan pukul
9.      Isim Zaman
Yaitu lafadz yang menunjukan makna waktunya melakukan pekerjaan
Seperti lafadz مَضرب waktuya mukul
10.  Isim Makan
Yaitu lafadz yang menunjukan makna tempatnya melakukan pekerjaan
Seperti lafadz مَضرب tempatnya mukul
Didalam tashrif isim zaman dan makan itu sama didalam wazannya karena keduanya sama musytaq (dicetak) dari fi’il mudhore’[3]
Adapun wazanya isim zaman dalam fi’il tsulasi itu ada dua yaitu:
1.      مَفْعِـــلٌ
Wazan ini digunakan untuk isim zaman dan makan fi’il tsulasi yang fi’il mudhore’nya dibaca kasroh seperti lafadz
سَــارَ يَسِيْرُ  مَسِــيْرٌ dan ضَرَبَ  يَضْرِبُ  مَضْرِبٌ
Kecuali kalau berupa bina’ mitsal wawi ( yaitu lafadz yang fa’ fi’ilnya terdapat huruf wawu) maka isim zaman dan makannya mengikuti wazan مَفْعِـــلٌ selamanya walaupun a’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca fathah, kasroh atau dhomah. Contoh:
a.       A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca fathah
وَجـِلَ يَوْجـَلُ مَوءجـِلٌ
b.      A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca kasroh
وَعـَدَ يَعــِدُ مَوْعـِدٌ
c.       A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca dhomah
وَقُـرَ يَوْقـُرُ مَوْقـِرٌ
2.      مَفْعَـــلٌ
Wazan ini digunakan untuk isim zaman dan makan fi’il tsulasi yang fi’il mudhore’nya dibaca fathah dan dhomah seperti lafadz
a.       A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca fathah
فَتـَحَ يَفْتـَحُ مَفْتـَحٌ
b.      A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca dhomah
أَمَلَ يـَأْمُـلُ مَـأْمَـلٌ
Kecuali kalau berupa bina’ mu’tal lam (lafadz yang lam fi’ilnya berupa huruf ilat yaitu wawu alif dan ya’) maka isim zaman dan isim makannya mengikuti wazan مَفْعَـــلٌ selamanya baik a’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca fathah, kasroh atau dhomah.


a.       A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca fathah
رَضـِيَ   يَرْضـَى مَرْضـًى
Asalnya lafadz مَرْضـًى adalah مَرْضـَوٌ wawu diganti dengan ya’ karena berada diurutan yang ke empat berada dipinggirnya kalimat dan jatuh sesudah harohat fathah maka menjadi مَرْضَـىٌ  kemudian ya’ diganti dengan alif karena hidupnya ya’ dan jatuh sesudah harohat fathah maka akan bertemu tanwin dan huruf sebelumnya yaitu alif yang menjadikan dua huruf mati kumpul dalam satu kalimat yaitu alif dan tanwin (nun mati ) akhirnya menjadi مَرْضـًى
b.      A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca kasroh
سَرَى يَسْرِى مَسْرًى
c.       A’in fi’ilnya fi’il mudhore’ dibaca dhomah
غـَا زَ  يَغـْزُوْ مَغـْزًى
11.  Isim Alat
Yaitu lafadz yang menunjukan makna waktunya melakukan pekerjaan
Seperti lafadzمِضْرَبٌ   alatya mukul


[1] اقتداء نالقران المجيد وعملا بحديث " كل امر ذبال لا يبدأ ببسم الله الرحمن الرحيم فهو اقطع "
[2] Fathul khobir hal 23-24
[3] Fathul khobir hal 65

0 komentar:

Poskan Komentar