Sabtu, 11 Februari 2012

Buku Matematika kelas X SMK Bisnis dan manajemen

Matematika merupakan suatu alat untuk berkomunikasi di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan matematika kita dapat
mengungkapkan gejala – gejala alam, sosial, dan teknik dengan
suatu ungkapan rumusan matematika yang tidak memuat
makna ganda. Bahkan dengan berbantuan matematika kita
dapat menyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi,
manajemen, dan teknik dengan penyelesaian yang akurat dan
optimal. Fakta menunjukkan bahwa beberapa pemenang nobel
untuk bidang ekonomi atau teknik berasal dari matematikawan.
Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai matematika dari
usia sekolah dasar maupun lanjut merupakan suatu kebutuhan.
Buku ini disusun dengan memperhatikan konsep berfikir
matematis dan selalu mengaitkannya dalam kehidupan seharihari,
khususnya pada permasalahan ekonomi, bisnis, dan
manajemen. Pada setiap konsep kecil yang dituangkan dalam
suatu sub bab selalu dikaitkan dengan permasalahan sehari –
hari. Juga pada setiap bab diawali dengan kalimat motivasi,
pembuka dan perangsang bagi pembaca untuk mengerti dari
awal, kira-kira akan dipakai seperti apa dan dimana.
Belajar matematika tidak cukup hanya dengan mengerti konsep
saja. Harus disertai dengan banyak latihan olah pikir serupa
dengan contoh – contoh yang diberikan. Untuk itu, pada setiap
akhir sub bab diberikan banyak soal – soal sebagai latihan dalam
menguasai konsep dan miningkatkan ketrampilan olah pikir dan
penyelesaian permasalahan.
Susunan materi di buku ini berpedoman pada silabus dan GBPP
yang telah disusun oleh Depdiknas untuk matematika tingkat
SMK bidang Bisnis dan Perkantoran. Sehingga rujukan yang
dipakai banyak menggunakan buku matematika untuk SMK dan
SMA/MA. Namun demikian juga memperhatikan beberapa buku
matematika untuk perguruan tinggi maupun buku aplikasi
matematika. Dengan harapan bahwa konsep dan aplikasi
matematika tidak terabaikan, juga tingkatan penyampaian materi
sangat memperhatikan usia sekolah SMK.
Banyak kata motivasi dan kalimat definitif diambil dari buku
rujukan yang dipakai. Untuk suatu topik gagasan, sering diambil
dari gabungan beberapa buku yang kemudian diungkapkan
kedalam suatu kalimat yang sekiranya akan mudah dimengerti. Untuk mengunduhnya silahkan klik Buku Matematika Kelas X SMK Bisnis dan Manajemen
Semoga Bermanfaat

Sabtu, 04 Februari 2012

الباب الاوّل من الثلاثي المجرّد

Setelah kita menghafalkan Nadhom wazanya fi'il tsulasi mujarod sekarang mari kita belajar dari setiap babnya fi'il tsulasi mujarod    
Bab yang pertama yaitu فَعَـــلَ يَفْعُــــلُ tandanya dengan dibaca fathah A’in fi’il didalam fi’il madhinya dan di baca dhomah a’in fi’il didalam fi’il Mudhore’nya. Pada bab satu ini kebanyakan yang masuk kebanyakan adalah fi’il Muta’adi dan terkadang juga berupa fi’il lazim namun sedikit. Keterangan fi’il muta’adi dan lazim sudah diterangkan diatas .back to the laptop ……
Bab yang pertama ini didahulukan dari pada bab yang kedua karena:
1.      Pada bab pertama bahasanya dan maknanya lebih banyak digunakan dari pada bab yang kedua
2.      Karena bab pertam a’in fi’il pada fi’il mudhore’ dibaca dhomah sedangkan pada bab dua dibaca kasroh, dan dhomah itu lebih kuat kuatnya harokat sehingga yang kuat didahulukan dari pada yang lemah dan karrena dhomah berada  diatas sedangkan kasroh berada dibawah maka yang atas lebih mulia sehingga didahulukan.
Tidak semua bina’ bisa masuk pada bab yang pertama namun hanya bina’ shoheh, bina’ ajwaf wai, naqis wawi, bina’ mudho’af  yang menunjukan ma’na muta’adi, dan bina’ mahmuz fa’. Sedangkan selain bina’ tersebut tidak bisa masuk pada bab yang pertama.
Lafadz يَفْعُــــلُ kenapa ya kok ya’ dibaca fathah……?
Begini ceritanya kenapa ya’ pada lafadz يَفْعُــــتلُ dibaca fathah pada huruf mudhoro’ah nya. Alasannya adalah  ya’ berat menyandang harokat dhomah karena dhomah adalah berat-beratnya harokat dan fathah adalah ringannya harokat sehingga kalau ya’ dibaca dhomah maka akan semakin berat dan orang arab akan semakin keberatan dalam mengucapkannya makanya dibaca fathah.
Pada fa’ fi’ilnya lafadz يَفْعُـــلُ disukun alasannya seperti yang sudah saya jelaskan diatas yaitu karena kalau tidak disukun akan berkumpul empat harokat berturut-turut dalam satu kalimat dan kalau berkumpul empat harokat dalam satu lafadz akan sulit dalam pengucapannya, walaupun ya’ bukan merupakan huruf asal tetapi ya’ yang merupakan huruf mudhoro’ah [1] apabila sudah berkumpul dengan fi’il maka akan menempati dalam satu kalimat.
Kenapa yang disukun kok  fa’ fi’il pada fi’il mudhore’ kok gak ya’ saja yang bukan merupakan huruf asal? Kalau yang disukun ya’ huruf mudhoro’ah maka akan kesulitan membaca huruf mati yang berada diawal kalimat.
Kenapa yang disukun kok  fa’ fi’il pada fi’il mudhore’ kok gak A’in fi’il  saja? Karena jika Ain fi’il disukun akan hilang tandanya lafadz tersebut yang mana A’in fi’il merupakan tanda dalam setiap wazan seperti keterangan diatas. Dan tidak lam fi’il yang disukan karena lam fi’il merupakan Mahalul I’rob.
Catatan:
F  Dalam kitab tashrif setiap bab selalu diberi wazan yang letaknya paling atas gunanya untuk menimbang mauzun dalam semua tashrifnya mauzun mulai dari fi’il madhi, mudhore’ dan seterusnya.
F  Dalam tashrif istilahi ada lafadz فهو  dan وذاك  ini tidak merupakan shighot tetapi diikutkan dalam tashrif seperti lafadz فهو  yang diikut sertakan pada isim fa’il dan lafadz وذاك  diikut sertakan pada isim maf’ul . Hal ini dikarenakan isim fa’il itu hukumnya marfu’ (dibaca Rofa’) dan isim maf’ul itu hukumnya manshub (dibaca nashob) maka agar ada kesesuaian lafadz فهو   yaitu isim dhomir yang juga marfu’ di ikut sertakan dalam isim fa’il. Begitu juga lafadz وذاك  yaitu isim isyaroh yang hukumnya manshub di ikutkan pada isim maf’ul yang juga manshub agar ada kesesuaian.

وسوف يتحقق النجاح من خلال النضال
“Kesuksesan akan kita capai dengan perjuangan”
Perjuangan harus pula disertai Do’a


[1] Huruf mudhoro’ah jumlahnya ada empat yang terkumpul dalam lafadz انيت

PEMBAGIHAN FI’IL DENGAN MELIHAT PENGAMALANNYA




Fi’il itu dibgi menjadi dua yaitu :
1.      FI’IL MUTA’ADI
Yaitu lafadz yang bisa difahami dengan adanya maf’ul bih kalau dibandingkan dengan bahasa Indonesia fi’il muta’adi itu sama dengan kata kerja transitif (kata kerja yang memerlukan penderita/objek)
Jadi dengan adaya maf’ul lafadz tersebut baru bisa dipaham oleh mukhotob. Contohnya seperti lafadz ضرب زيد عمرا Zaid sudah memukul amar. (Ndah neo lorone yo dipukul)  lafadz ضرب ini menjadi fi’il (hayo fi’il opo…..? “fi’il madhi pak “ ternyata pinter2 kelas siji) lafadz زيد ini menjadi fa’il (subjek) (piye yo hukume fa’il? Mesti wes podo ngerti kabeh iki)  dan lafadz  عمرا menjadi maf’il (objek)

2.      FI’IL LAZIM
Yaitu lafadz yang sudah bisa difahami tanpa adanya maf’ul bih kalau dibandingkan dengan bahasa Indonesia fi’il muta’adi itu sama dengan kata kerja intransitif (kata kerja yang tidak  memerlukan penderita/objek) contohnya seperti lafadz قام زيد Zain sudah berdiri
Tanbih:
Ada beberapa cara untuk mengetahui antar fi’il muta’adi dan fi’il lazimnya yaitu
F  suatu kalimat yaitu setiap lafadz yang menunjukan arti pekerjaan yang dilakukan seluruh anggota badan kita hukumnya lazim [1] Contoh ذهب        = Pergi
F  Dan setiap pekerjaan yang dilakukan oleh sebagian anggota tubuh kita hukumnya Muta’adi seperti lafadz ضرب =  memukul
Lafadz-lafadz yang termasuk fi’il lazim yaitu
1.        Lafadz yang menunjukan arti Bersih contoh طهر
2.        Lafadz yang menunjukan Arti kotor contoh نجُـسَ
3.        Perkara yang tidak merupakan gerakan jisim dari makna / sifat yang bertempat pada fa’il yang tidak selalu menetap [2] contohnya فَرِحَ

Adapun kalimat fi’il itu pada dasarnya ada dua macam yaitu
1.      Fi’il Tsulasi ada dua macam yaitu:
a.       Fi’il tsulasi mujarod (ada 6 bab)
b.      Fi’il tsulasi mazid (ada 14 bab)
2.      Fi’il Ruba’I ada dua macam
a.       Fi’il Ruba’i mujarrod itu ada dua macam yaitu
-          Fi’il Ruba’i ghoiru mulhaq (terdiri dari 1 bab)
-          Fi’il Ruba’i mulhaq (terdiri 7 bab)
b.      Fi’il Ruba’i mazid terdiri dari 3 bab
Untuk pertemuan ini fi’il tsulasi mujarod yang akan kita bahas.
الفعل الثلاثي

Fi’il tsulasi adalah lafadz yang huruf asalnya terdiri dari tiga huruf
Fi’il  tsulasi ini sendiri terbagi menjadi dua yaitu:
1.      Fi’il tsulasi mujarod adalah lafadz yang huruf asalnya tiga huruf dan sepi dari huruf zaidah contohnya seperti lafadz ضرب
Adapun fi’il tsulasi mujarod ini mempunyai enam bab yang akan dijelaskan.
2.      Fi’il tsulasi mazid yaitu lafadz yang huruf asalnya tiga dan mendapatkan huruf tambahan contohnya seperti lafadz اجتمع

الفعل الثلاثي المجّرد
Pada wazannya fi’il tsulasi mujarod yang menjadi dasar perbedaan dalam setiap wazan terletak di A’il fi’il baik fi’il madhi atau mudhore’.
Kenek opo pak kok gak Fa’ utowo Lam Fi’il?..... Tanya salah satu siswa yang kreatif. Begini lo..... jika yang dijadikan tanda
a.       Fa’ fi’il maka ketika shigotnya menjadi fi’il mudhore’ fa’ fi’il akan disukun sehingga tidak akan bisa dibedakan antara bab satu dengan bab yang lain.
b.      Lam fi’il tidak bisa dijadikan tanda dalam setiap wazan karena lam fi’il berada di akhir kalimat yang menjadi tempatnya I’rob. Jadi selalu berubah ubah sehingga tidak bisa dijadikan tanda dalam setiap wazan.
Fi’il tsulasi mujarod itu mempunya enam bab seperti yang sering kita nadhomkan.
فتح ضّم كفَعَل ويَفْعُــلُ # موزنـــه كنصر وينصر
فتح كسر كفَعَلَ ويَفْعـِـلُ # موزنه كضرب ويضرب
فتحتان كفَعَلَ ويفعَــــلُ # موزنــــه كفَتَـــحَ ويَفْتَحُ
كسر فتح كفَعِـلَ ويَفْعَــــلُ #   موزنــــه كعَلِــمَ ويَعْلَمُ
ضّم ضّم كفَعُـل ويَفْعُـلُ #  موزنه كحسُنَ ويَحْسُنُ
كسرتان كفَعِلَ ويَفْعِـتلُ # موزنه كحسِـبَ ويحْسِبُ
Yang menjadi perubahan pada setiap wazan terletak pada Ain fi’ilnya baik itu fi’il Madhi atau Mudore’nya satu contoh seperti nadhm yang pertama yaitu Ain fi’il pada fi’il madhi dibaca fathah dan Ain fi’il pada fi’il mudhore’nya dibaca dhomah فَعَل يَفْعُــلُ untuk nadhom berikutnya juga sama seperti itu.


[1] Kitab Talhis hal. 11
[2] Al qowaid As shorfiyah

Nama-Nama Lain Al Qur'an

Sesuai dengan keanekaragaman Al Qur’an yang menyentuh segala macam sisi-sisi kehidupan manusia. Berikut adalah nama –nama lain Al Qur’an yang diturunkan Malaikat JIbril kepada Rasulullah SAW:
1. Al Kitaab. Al Qur’an disebut juga dengan Al Kitaab karena merupakan sinonim baginya.





Artinya: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al Baqarah [2] : 2)

2. Al Furqaan. Al Qur’an disebut juga Al Furqaan karena memiliki fungsi sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah.



Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS Al Furqaan [25] : 1)

3. Az Zikr. Al Qur’an disebut juga Al Zikr karena memiliki funsi sebagai pemberi peringatan.



Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliaranya.” (QS Al Hijr [15] : 9)

4. Al Mau’izah. Al Qur’an disebut juga Al Mu’izah karena ia merupakan pelajaran atau nasihat.





Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya, telah datang kepadamu pelajaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yuunus [10] : 57)

5. Al Hikmah. Al Qur’an disebut juga Al Hikmah karena segala yang terkandung di dalam Al Qur’an adalah kebijaksanaan.





Artinya: “Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu (Muhammad). Dan janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela dan dijauhkan (dari rahmat Allah).” (QS Al Israa [17] : 39)

6. Asy Syifa’. Al Qur’an disebut juga Asy Syifa’ karena mampu mengobati atau menyembuhkan penyakit baik lahir maupun batin.





Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya, telah datang kepadamu pelajaran (Al Qur’an) daru Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS Yuunus [10] : 57)

7. Al Hudaa. Al Qur’an disebut juga Al Hudaa karena ia juga berfungsi sebagai petunjuk.





Artinya: “Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadany. Maka barangsiapa beriman kepadaTuhan maka tidak perlu ia takut rugi atau berdosa.” (QS Al Jin [72] : 13)

8. Al Tanziil. Al Qur’an disebut juga Al Tanziil karena ia adalah kitab suci yang diturunkan.




Artinya: ”Dan sungguh, (Al Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS Asy Syu’araa [26] : 192)

9. Ar Rahmah. Al Qur’an disebut juga Al Rahman karena ia berfungsi sebagai petunjuk dan karunia bagi umat manusia dan alam semesta.



Artinya: “Dan sungguh, (Al Qur’an) itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS An Naml [27] : 77)

10. Ar Ruuh. Al Qur’an disebut juga Ar Ruuh karena ia mampu menghidupkan akal pikiran dan membimbing manusia kepada jalan yang lurus.







Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyulan kepadamu (Muhammad) ruh (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al Qur’an dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami member petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.” (QS Asy Syuuraa [42] : 52)

11. ka Bayaan. Al Qur’an disebut juga Al Bayaan karena ia berfungsi sebagai penjelas dan penerang kebenaran dari Tuhan.



Artinya: “Inilah (Al Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, da menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imraan [3] : 138)

12. Al Kalaam. Al Qur’an disebut juga Al Kalaam karena ia adalah firman Allah dan merupakan kitab suci yang diucapkan.





Artinya: “Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadanmu, maka lindungilah agar dia dapar mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS At Taubah [9] :6)

13. Al Busyraa. Al Qur’an disebut juga Al Busyraa karena ia berfungsi sebagai pembawa kabar gembira.





Artinya: “Katakanlah, “Rohulkudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang berserah diri (kepada Allah).” (QS An Nahl [16] : 102)

14. An Nuur. Al Qur’an disebut juga An Nuur karena ia mapu membawa manusia memperoleh cahaya ketuhanan.





Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).” (QS An Nisaa [4] : 174)

15. Al Basaa’ir. Al Qur’an disebut juga Al Basaa’ir karena ia berfungsi sebagai pedoman.




Artinya: “(Al Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS Al Jaasiyah [45] : 20)

16. Al Balaag. Al Qur’an disebut juga Al Balaag karena ia berfungsi sebagai penyampai kabar atau penjelasan bagi manusia.





Artinya: “(Al Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS Ibraahiim [14] : 52)

17. Al Qaul. Al Qur’an disebut juga Al Qaul karena ia merupakan perkataan atau ucapan yang dapat menjadi pelajaran bagi manusia.




Artinya: “Dan sungguh, Kami telah menyampaikan perkataan ini (Al Qur’an) kepada mereka agar mereka selalu mengingatnya.” (QS Al Qasas [28] 51)

Senin, 30 Januari 2012

WAZAN, MAUZUN, MUTHOBAQOH dan BINA’


pada postingan terdahulu sudah saya tulis tentang macam-macam shighot sekarang mari kita belajar tentang wazan, mauzun dan bina'
A.      Wazan
Wazan adalah lafadz-lafadz yang dijadikan timbangan (standar) untuk membandingakn huruf yang berharokat dengan huruf yang berharokat, serta huruf yang mati dengan huruf yang mati, yang huruf asalnya berupa Fa’ Ain dan Lam [1]
Contoh: فَعَلَ    يَفْعُلُ    فَعْلاً       وَمَفْعَلاً    فَهُـوَ    فاَعٍلٌ  
                نَصَرَ  يَنْصُرُ  نَصْراً     وَمَنْصَراً  فَهُـوَ   ناَصٍرٌ    

Dalam contoh ini lafadz فَعَلَ    يَفْعُلُ     dijadikan wazan yang artinya timbangan untuk membandingkan huruf yang berharokat dan yamg mati pada lafadz    نَصَرَ  يَنْصُر dan lafadz yang ditimbang yaitu lafadz  نَصَرَ  يَنْصُر itu dinamakn mauzun.
Para ulama memilih lafadz فَعَلَ itu sebagai wazan karena hurufnya mencakup tiga makhroj yaitu fa’ makhrojnya dari bibir (syafah) huruf Ain makhrojnya dari tenggorokan (halaq) dan huruf lam makhrojnya dari Mulut (fam) disamping itu makna lafadz فَعَلَ (bekerja) itu merupakan paling umumnya makna seperti lafadz نَصَرَ (menolong) bias diucapkan pekerjaan menolong lafadz قعد  (duduk) bias diucapkan pekerjaan duduk [2]

B.       Muthobaqoh
Muthobaqoh Yaitu lafadz yang disebutkan dalm kitab amtsilatus tashrifiyah yang sesuai dengan lafadz yang ditanyakan dalam segi wazan, bina’, bab, shighot dan waqi’nya (mufrod,tasniyah atau jama’) [3]
C.       Bina’
Bina’ adalah bentuk kalimat dengan memandang huruf asalnya ( fa’ ain dan lam fi’ilnya) .
Secara global bina’ itu dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Bina’ salim
Bina’ salim adalah lafadz yang huruf asalnya selamat dari huruf ilat, hamzah dan tasydid
2.      Bina’ ghoiru salim
Bina’ salim adalah lafadz yang huruf asalnya tidak  selamat dari huruf ilat, hamzah dan tasydid

Bina’ salim itu sama dengan bina’ shoheh tetapi menurut imam az zanjadi dan sebagian ulama’ shorof  yang berpendapat bahwa bina’ salim itu berbeda dengan bina’ shoheh.  Perbedaanya adalah Bina’ salim yaitu lafadz yang huruf asalnya selamat dari huruf  ilat. Jadi kalau menurut imam zanjadi bina’ mudho’af dan bina’ mahmus termasuk bina’ salim.



 Bina’ dalam fiil tsulasi dibagi menjadi 7 (tujuh). dengan uraian sebagai berikut;
1.      Bina’ Shohih ialah lafadz  yang huruf asalnya sepi dari huruf ilat(wawu,alif dan ya) hamzah dan huruf yang digandakan (tasydid) Bina’ ini terdapat pada setiap babnya fiil. Seperti lafadz نصر , ضرب , شجع
2.      Bina’ Mudlo’af  ialah kalimat yang ‘ain fiil dan lam fiilnya berupa dua huruf yang sama .(bila terdapat pada Fi’il Tsulatsi mujarrod atau mazid).
Seperti lafadz:
  مَدَّasalnya   مَدَدَ ikut wazan فَعَـلَ (fi’il tsulasi mujarod)
Ø  Mim dinamakan Fa’ fi’il
Ø  Dal yang pertama dinamakan Ain fi’il
Ø  Dal yang kedua dinamakan lam fi’il  
  اِمْتَدَّ asalnya اِمْتَدَدَ  ikut wazan اِفْتَعَلَ (fi’il tsulasi mazid)
Ø  Hamzah dinamakan huruf zaidah
Ø  Mim dinamakan fa’ fi’il
Ø  Ta’ dinamkan huruf zaidah
Ø  Dal pertama dinamakan a’in fi’il
Ø  Dal kedua dinamakan lam fi’il
Bina’ Mudho’af  jika berada pada fi’il Ruba’I mujarod ataupun Mazid ialah kalimat yang fa’ dan lam fi’il awal berupa huruf yang sejenis serta a’in dan lam fi’il yang kedua berupa huruf yang sejenis pula.
Contoh:
                           زَلْزَلَ    فعلل     (fi’il ruba’I mujarod)
F  Za’ awal dinamakan fa’ fi’il
F  Lam awal dinamakan a’in fi’il
F  Za’ kedua dinamakna lam fi’il awal
F  Lam kedua dinamakan lam fi’il tsani

                           تَفعلل     تَزَلْزَلَ  (fi’il ruba’i mazid)
F  Ta’ dinamakan huruf zaidah
F  Za’ awal dinamakan fa’ fi’il
F  Lam awal dinamakan a’in fi’il
F  Za’ kedua dinamakna lam fi’il awal
F  Lam kedua dinamakan lam fi’il tsani

Dinamakan Bina’ mudho’af yang secara bahasa artinya adalah ganda sehingga dinamakan bina’ mudho’af
Bina’ mudho’af didahulukan dari pada bina’ mahmuz karena bina’ mudho’af lebih dekat dengan bina’ shoheh lantaran sedikit berubah-ubah [4]
Bina’ mudlo’af pada fiil mujarrod hanya masuk pada bab 1, 2 dan 4 sedangkan pada bab 5 hukumnya jarang
3.      Bina’ Mahmuz  ialah kalimat yang salah satu huruf asalnya terdapat huruf hamzah. Bina’ ini seperti bina’ shohih yakni masuk di setiap babnya fiil tsulasi mujarrod.
F Kalau hamzah bertempat pada fa’ fi’il dinamakan mahmuz fa’ seperti lafadz أخذ
F Kalau hamzah bertempat pada A’in fi’il dinamakan mahmuz A;in seperti lafadz سأل
F Kalau hamzah bertempat pada lam fi’il dinamakan  mahmuz lam seperti lafadz نشأ
4.      Bina’ Mitsal   ialah kalimat yang fa’ fiilnya berupa huruf ‘illat. Apabila berupa huruf ‘illat wawu disebut mitsal wawi dan berupa huruf ‘illat ya’ disebut mitsal ya’i. Bina’ ini terdapat pada setiap bab kecuali bab 1 dari fiil tsulasi mujarrod. Dinamakan bina’ mitsal karena fi’il madlinya menyerupai dengan bina’ shoheh didalam kuatnya menyadang harokat seperti lafadz  وعد , يسر
5.      Bina’ Ajwaf   ialah kalimat yang ‘ain fiilnya berupa huruf ‘illat. Apabila berupa huruf ‘illat wawu disebut ajwaf wawi dan berupa huruf ‘illat ya’ disebut ajwaf ya’i. Bina’ ini pada fiil tsulasi hanya ada pada bab 1, 2 dan 4. adapun lafadzطال   mengikuti bab 5 hukumnya syadz.
Dinamakan bina’ ajwaf karena huruf yang tengah tidak berupa huruf shoheh seakan akan seperti perut yang tengahnya kosong
6.      Bina’ Naqis    ialah kalimat yang lam fiilnya berupa huruf ‘illat. Apabila berupa huruf ‘illat wawu disebut naqis wawi dan berupa huruf ‘illat ya’ disebut naqis ya’i. Bina’ ini masuk pada bab 1, 2, 4 dan 5.
Dinamakn bina’ naqis karena huruf akhirnya berkurang dari huruf shoheh sehingga dinamakan bina’ naqis yang secara lughot artinya berkurang.
7.      Bina’ Lafif     ialah kalimat yang fa’ dan lam fiilnya berupa huruf ‘illat (disebut lafif mafruq) dinamakan bina’ lafif mafruq karena dua huruf ilat yang bersamaan tersebut terpisah oleh huruf shoheh
atau kalimat yang ‘ain dan lam fiilnya berupa huruf ‘illat (disebut lafif maqrun). Dinamakan bina’ lafif maqrun karena dua huruf ilat yang bersamaan tersebut tidak terpisah. Bina’ ini masuk pada bab 2, 4 dan 6
Mari kita hafalkan macam-macamnya bina’ yang telah kita baca mulai awal tadi. Untuk lebih mudah mengahfalnya mari kita lantunkan nadhom dibawah ini.

صَحِيْحَةٌ مِثأَلَةٌ مُضاَفُ # لَفِيْفُ ناَقِصٌ مَهْمُوْزُ اَجْوأفُ

 Sopo yo seng suarane penak dewe……?


[1] Talhis Al-Asas. Hal. 7
[2] Talhish Al-Asas hal 7
[3] Minhatu dzi jalal hal.3
[4] Talhish Al-Asas hal 56